Menepi Sejenak, Kembali Lebih Kuat!
Kesehatan mental adalah salah satu faktor penting yang memengaruhi produktivitas, kreativitas, dan kesejahteraan pekerja. Tekanan kerja yang tinggi, beban tanggung jawab, dan dinamika lingkungan kerja dapat menjadi pemicu stres yang berdampak pada kesehatan fisik maupun psikologis.
Data World Health Organization (WHO), stres kerja yang tidak ditangani dapat menurunkan kinerja hingga 30%, meningkatkan risiko burnout, dan memicu masalah kesehatan seperti gangguan kecemasan hingga depresi. Sekitar 15% orang usia kerja memiliki gangguan mental pada suatu waktu. Kondisi ini menyebabkan hilangnya sekitar 12 miliar hari kerja setiap tahun, setara kerugian sekitar 1 triliun dollar per tahun akibat penurunan produktivitas. WHO dan ILO merekomendasikan pencegahan risiko psikososial di tempat kerja melalui kebijakan organisasi, pelatihan, dan dukungan mental.
Petugas pemasyarakatan di Rumah Tahanan memiliki peran strategis dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan memberikan pelayanan yang humanis kepada warga binaan. Namun penelitian pada petugas pemasyarakatan menunjukkan tingginya tingkat stres, burnout, dan gejala PTSD yang setara bahkan lebih tinggi dari populasi penegak hukum lain. Burnout sendiri telah diakui WHO dalam ICD-11 sebagai fenomena akibat stres kerja kronis yang tidak terkelola. Sehingga kesehatan mental menjadi sebuah kebutuhan esensial bagi petugas pemasyarakatan untuk membangun kesejahteraan diri serta meningkatkan produktivitas kerja dan pelayanan prima. Oleh karena itu, Pelatihan Dukungan Kesehatan Mental bagi Petugas Pemasyarakatan menjadi bagian penting untuk dilaksanakan.
Pelaksanaan Pelatihan Dukungan Kesehatan Mental Petugas Pemasyarakatan
Pembukaan
Jakarta, 18-19 September 2025 terlaksana Pelatihan Dukungan Mental pada Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan oleh Rumah Tahanan Kelas I Jakarta Pusat. Pelatihan dihadiri oleh peserta yang berbeda tiap harinya. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat teridentifikasi faktor risiko dan tanda awal kesehatan mental, meningkatkan pemahaman, kesadaran dan keterampilan dalam menjaga kesehatan mental, serta tersusun rencana aksi personal dan kelompok untuk berkontribusi dalam membangun atmosfer kerja yang positif. Kegiatan diawali dengan pembukaan yang dipandu oleh Master of Ceremony untuk menyampaikan tujuan dan rangkaian acara yang akan dilakukan oleh peserta selama pelatihan. Sambutan sekaligus membuka kegiatan disampaikan oleh Kepala Rumah Tahanan Wahyu Trah Utomo, A.md.IP, S.Sos., M.Si yang menekankan pentingnya dukungan kesehatan mental untuk menjaga produktivitas kerja dalam menjalankan tugas dengan optimal.

Pre-Test dan Self-Assessment
Menjadi sesi sebelum masuk pada sesi pokok pelatihan ini. Pre-test dilakukan untuk mengukur tingkat pengetahuan serta sikap seputar kesehatan mental. Peserta juga mengisi self assessment yakni mengisi form deteksi dini kesehatan mental sesuai dengan kondisi yang peserta alami selama 30 hari terakhir.
Connecting Creation
Membangun keakraban dan kebersamaan dengan tujuan mempererat hubungan, meningkatkan solidaritas, menciptakan atmosfer pelatihan yang lebih harmonis dan suportif, serta meningkatkan komunikasi dan kerja sama selama pelatihan. Kegiatan ini dikemas dengan ragam permainan kelompok.

Sesi Pause
Kegiatan ini bertujuan untuk mengelola dan merasakan setiap nafas sehingga diharapkan dapat meningkatkan fokus dan kejernihan pikiran, peningkatan kesadaran diri selama kegiatan dukungan kesehatan mental berlangsung.
Overview Kesehatan Mental
Sebagai materi pengantar pelatihan, sesi ini dipaparkan data global terkait permasalahan kesehatan mental para pekerja, burnout dan kondisi kesehatan mental lainnya. Peserta didorong untuk mengidentifikasi indikator kesehatan mental dengan memahami lebih dalam potensi yang dimiliki, cara mengatasi stres, hal produktif yang dilakukan serta kontribusi yang sudah dilakukan untuk lingkungan. Peserta juga mengidentifikasi pentingnya memelihara kesehatan sebagai upaya untuk mencegah munculnya gangguan mental, meningkatkan produktivitas kerja dan kualitas layanan kepada Warga Binaan Pemasyarakatan serta untuk mengurangi risiko putus kerja. Selain itu juga tersampaikan materi dasar terkait memahami emosi dan regulasinya serta stres dan stategi mengelolanya.

Pelatihan ini dikemas dengan pendekatan interpersonal communication yang berfokus pada tiga prinsip utama yakni membangun keakraban, saling mendengarkan dan berbicara serta kunci komitmen. Semua materi yang disampaikan dilakukan dengan pembelajaran orang dewasa, model partisipatif dan sarat nilai praktik yang tepa guna melalui proses S.H.A.R.E (Sharing, Healing, Awareness, Reflection dan Education).
SHARING: Berbagi Perasaan, Pengalaman dan Tantangan Dinamika Kerja
Peserta mengawali sesi ini dengan melakukan aktivitas metafora diri yang tersaji di lembar kerja. Peserta menggambarkan diri mereka dengan sebuah benda serta menyertakan alasannya. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman diri, mengekspresikan perasaan yang mungkin sulit diungkapkan secara langsung, mengajak peserta memandang diri dari perspektif baru serta tanpa sadar mengungkapkan potensi diri dan tantangan yang dihadapi oleh diri sendiri. Terdapat banyak benda yang dianalogikan sebagai diri oleh peserta antara lain “seperti pondasi yang kokoh karena harus menjadi tulang punggung keluarga”, “seperti pohon kelapa karena selama ini berusaha memberikan manfaat bagi banyak orang”. Melalui permainan bola berputar, peserta dalam setiap kelompok bergantian membacakan hasil metafora diri.
Peserta kemudian mengerjakan my work and my feeling dengan melingkari emoticon perasaan yang muncul saat bekerja, menuliskan hal-hal yang membuat marah, sedih dan kecewa ditempat kerja, serta dampak stres terhadap diri sendiri, keluarga dan pekerjaan. Kegiatan ini bertujuan membantu peserta mengenali dan memberi nama pada perasaan yang muncul saat bekerja, menumbuhkan kesadaran tentang situasi, perilaku, atau faktor tertentu di tempat kerja yang memicu marah, sedih, dan kecewa. Selain itu juga memberi ruang bagi peserta untuk mengidentifikasi dampak stres secara pribadi, keluarga dan pekerjaan.
Kegiatan dilanjutkan dengan mencari sumber stres di tempat kerja yang dikemas melalui permainan kelompok. Hasilnya teridentifikasi beragam sumber stres yang dialami oleh peserta selama berada di tempat kerja. Pada akhir sesi, peserta diminta menuliskan siapa saja orang di tempat kerja yang dapat membantu ketika sedang mengalami stres.

Pesan Kunci: Penting memahami sumber stres yang muncul agar dapat menentukan langkah yang sesuai dalam mengelola stres, memahami bahwa setiap orang memiliki tingkat stres yang berbeda, serta pentingnya melakukan sharing baik melalui tulisan, cipta karya maupun berbagi cerita dengan rekan kerja yang dipercaya. “Berbagi cerita merupakan bagian untuk saling memahami dan membangun dukungan kesehatan mental di tempat kerja”.
HEALING: Regulasi Emosi dan Membangun Strategi Koping
Bernyanyi Bersama, lagu “Manusia Kuat” dari Tulus sebagai pemantik awal sekaligus mengingatkan bahwa seluruh peserta yang hadir merupakan individu kuat dengan segala tantangan yang harus dihadapi. Dilanjutkan sesi bermain peran oleh dua perwakilan peserta untuk menceritakan tantangan yang muncul selama bekerja, melakukan identifikasi bersama dan menentukan strategi coping yang tepat dalam menghadapinya. Pada sesi ini peserta dibekali keterampilan melakukan regulasi emosi ketika menghadapi stimulus tertentu. Langkah pertama adalah Diam Sejenak sembari mengelola nafas. Peserta didorong untuk memahami emosi yang muncul sebagai hal yang alami, wajar dan dapat datang dan pergi dengan cepat. Langkah kedua yakni Menamai Perasaan (menyebutkan perasaan yang sedang dialami misalnya “saya kesal” “saya sedang marah”, “saya sedih” dsb). Peserta didorong menerima, membiarkan dan mengizinkan diri sendiri untuk merasakan emosi yang hadir. Langkah terkahir adalah Bereaksi (merespon stimulus dengan tenang tanpa menyakiti diri sendiri dan orang lain). Peserta didorong untuk belajar mengungkapkan emosi dengan bijaksana. Pada sesi ini peserta juga diberikan keterampilan melakukan manajemen stres yang tepat ketika dihadapkan pada tantangan dan perubahan dalam lingkup kerja. Langkah pertama adalah Pahami, peserta perlu memahami sumber dan tingkat stres yang dihadapi. Langkah kedua adalah Kelola Pikiran, peserta dilatih mengganti pikiran negatif menjadi positif. Langkah ketiga yakni Atasi Tekanan, mengatasi tekanan dengan mencari koping yang tepat.

Pesan Kunci: Pentingnya mengembangkan keterampilan regulasi emosi dan manajemen stres dalam menghadapi munculnya emosi dan stres yang hadir silih berganti terutama di dunia kerja. Terdapat banyak aktivitas positif yang dapat digunakan untuk memelihara kesehatan mental seperti olahraga, liburan, istirahat cukup, relaksasi, menjaga pola makan, melakukan hobi dan aktivitas lainnya. Dari kegiatan ini, peserta memahami strategi coping melalui problem focused coping dan emotional focused coping.
AWARENESS: Mengenali, Menerima dan Mendeteksi Masalah Kesehatan Mental
Awareness menjadi sesi yang bertujuan mendorong peserta mengenali, menerima dan mendeteksi masalah kesehatan mental yang muncul. Permainan tangkap jari menjadi pengantar sesi ini, dengan klue permainan kata “sakit” (fisik), “sedih” (psikis) dan “pukul” (perilaku). Ketiga klue ini menjadi pemantik diskusi terkait gejala stres. Peserta bersama-sama melakukan identifikasi terkait gejala fisik (otot tegang, sakit kepala, detak jantung meningkat, sakit perut dsb); gejala psikis (mudah marah, sedih tanpa alasan jelas, kehilangan motivasi) dan perilaku (memukul, membanting barang, menarik diri dari lingkungan dsb) yang muncul ketika individu merasakan stres.
Sesi refleksi dilanjutkan dengan memahami kondisi diri dengan bertanya Apa Kabar Diriku Hari Ini?. Kegiatan ini dilakukan untuk mendorong peserta menyadari kondisi dirinya saat ini. Sesi ini juga menekankan bahwa kesehatan mental sebagai kontinum. Peserta didorong untuk memahami 4 (empat) kondisi yang bisa terjadi. Pertama, Kondisi Sehat menunjukkan individu dapat berfungsi secara normal/optimal. Kedua, Kondisi Bereaksi artinya diri sedang mengalami stres yang wajar dan dapat diatasi. Ketiga, Kondisi Terluka yakni terdapat gangguan fungsional yang signifikan. Keempat, Kondisi Terganggu yakni terdapat gangguan fungsional yang signifikan dan terdapat gangguan klinis yang terdiagnosa. Peserta didorong untuk melakukan self care dan mencari dukungan sosial serta menghubungi profesional jika sudah dalam kondisi terluka dan terganggu.

Pesan Kunci: Pentingnya petugas pemasyarakatan untuk memahami, mengenali dan menyadari kesehatan mental serta segera mencari pertolongan jika dibutuhkan. Semakin cepat menyadari kondisi kesehatan mental, semakin tuntas penanganan yang dilakukan. Melakukan self care penting untuk diterapkan di tempat kerja agar tetap dalam kondisi sehat.
REFLECTION: Internalisasi Makna Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental
Sesi ini berfokus pada internalisasi makna pentingnya kesehatan mental bagi petugas pemasyarakatan. Peserta ditekankan bahwa kesehatan mental diri yang terpelihara akan memberikan dampak positif pada diri sendiri namun juga pada lingkungan keluarga dan lingkungan pekerjaan. Pada aktivitas Baloon of Well Being peserta meniupkan angin yang disimbolkan sebagai potensi diri, perilaku produktif, karakter mental yang positif serta hal-hal baik yang akan dilakukan untuk menghadirkan versi terbaik dari diri sendiri. Berkembangnya balon ini menjadi ilustrasi energi baru bagi peserta sebagai pekerja yang memiliki mental yang sehat dan kinerja hebat.
Pesan Kunci : Kesehatan mental menjadi hal penting dan mendasar bagi setiap orang. Menjaga kesehatan mental bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan dasar setiap individu. Kesehatan mental yang baik ciptakan kinerja berkualitas.
EDUCATION:Memperkuat Isu Pemahaman Kesehatan Mental dan Penerapan Rencana Aksi
Sesi edukasi ini bertujuan memperkuat isu terkait kesehatan mental yang sudah dibahas serta membuat rencana aksi baik untuk diri sendiri maupun kelompok kerja. Snow ball menjadi aktivitas pertama dalam kegiatan ini. Peserta yang mendapatkan bola disaat lagu berhenti diminta untuk menjawab dan mengulas kembali pertanyaan kunci seputar pelatihan yang sudah dituliskan dalam lapisan lembaran bola kertas. The Take Actions I Take, The Dreams I Chase menjadi aktivitas kedua dari sesi ini, peserta diminta untuk menuliskan potensi diri yang akan dikembangkan, strategi koping positif yang dipilih saat mengalami stres, hal-hal yang akan dilakukan untuk dapat bekerja secara produktif dan kontribusi yang akan dilakukan di lingkungan kerja dan masyarakat. Selanjutnya peserta menyusun rencana aksi pribadi dan berdiskusi untuk menyusun rencana aksi kelompok sebagai upaya untuk memelihara kesehatan mental di tempat kerja. Sesi terakhir ditutup dengan aktivitas Surat Untuk Diriku, peserta menuliskan rasa syukur serta harapan untuk diri sendiri di masa depan.

Pesan Kunci: Kesehatan mental adalah bagian dari diri kita yang perlu dirawat hari ini, saat ini hingga nanti. Aksi bersama hari ini untuk saling mendukung kesehatan mental antar petugas sehingga menumbuhkan mental sehat, kinerja hebat untuk terus membangun rumah tahanan bermartabat.

Setelah perjalanan panjang sesi S.H.A.R.E, peserta mengerjakan post test dilanjutkan aktivitas Saatnya Mengapresiasi dengan pemberian apresiasi bagi kelompok terbaik dan peserta pelatihan terbaik. Sebelum berakhir, peserta bersama-sama melakukan butterfly hug disertai memberikan apresiasi positif kepada diri sendiri. Kegiatan ditutup secara resmi oleh pihak perwakilan Rumah Tahanan Kelas I Jakarta Pusat.
