Plato Foundation

PLATO berkolaborasi dengan LPKA (Lembaga Pemasyarakatan Khusus Anak) Kota Blitar Selenggarakan Psikoedukasi Kesehatan Mental bagi Anak Binaan Pemasyarakatan

Facebook
WhatsApp
Twitter

Minggu, 7 September 2026 terlaksana psikoedukasi kesehatan mental bagi 30 Anak Binaan Pemasyarakatan di aula LPKA (Lembaga Pemasyarakatan Khusus Anak) Kota Blitar.  Kegiatan ini menjadi ruang bagi anak untuk belajar mengenali diri, mengelola stres dan emosi,  membangun komunikasi yang sehat, serta mempersiapkan diri untuk kembali ke keluarga dan masyarakat. Kegiatan ini dikemas  secara interaktif melalui diskusi, refleksi diri, permainan, studi kasus, dan role play.

Memahami Diri Melalui Sesi Membangun Konsep Diri

Pada sesi ini peserta melihat kembali dirinya melalui materi konsep diri. Fokus sesi ini mengenali diri, kekuatan dan potensi yang dimiliki, hal-hal yang perlu diperbaiki, serta bagaimana pengalaman masa lalu dapat menjadi pembelajaran untuk membangun masa depan. Sesi ini memberikan penguatan pada peserta bahwa tidak ada manusia yang sempurna, penting untuk berfokus pada peningkatan potensi dan memperbaiki kekurangan dalam diri.  Setiap anak memiliki potensi untuk berubah dan memiliki kesempatan untuk menentukan siapa dirinya di masa depan.

Mengenal dan Mengelola Emosi Diri

Memasuki sesi regulasi emosi, peserta diajak memahami bahwa marah, kecewa, sedih, takut, dan bahagia merupakan reaksi wajar yang hadir silih berganti. Melalui berbagai contoh situasi dan permainan, peserta belajar mengenali pemicu emosi dan mencoba strategi sederhana untuk mengendalikan respons sebelum mengambil tindakan. Setiap orang tidak selalu bisa memilih apa yang terjadi,  tetapi dapat bisa belajar memilih bagaimana meresponsnya. Peserta didorong untuk memahami bahwa tindakan yang dilakukan saat emosi dapat membawa dampak bagi diri sendiri maupun orang lain. Maka penting melakukan pengelolaan emosi dengan diam sejenak, menamai emosi yang muncul dan bereaksi dengan bijaksana.

Menghadapi Setiap Tantangan dengan Tenang

Kembali ke masyarakat dapat menghadirkan berbagai tantangan. Tekanan dari lingkungan, konflik dengan keluarga, masalah pertemanan, kesulitan beradaptasi, maupun ajakan dari lingkungan lama dapat menjadi sumber stres. Dalam sesi Manajemen Stres, peserta belajar mengenali tanda-tanda ketika diri mulai mengalami tekanan dan menemukan cara yang lebih sehat untuk menghadapinya. Peserta didorong untuk memiliki strategi menghadapi masalah tanpa melampiaskannya melalui kekerasan, penyalahgunaan narkoba, tindakan impulsif, atau perilaku berisiko lainnya. Stres bukan alasan untuk menyerah pada keadaan. Stres adalah sinyal bahwa peserta perlu berhenti sejenak, mencari cara yang lebih sehat, dan meminta bantuan ketika diperlukan.

Berani Berkata “Tidak”

Salah satu keterampilan yang sangat penting ketika kembali ke lingkungan sosial adalah komunikasi asertif. Melalui role play, peserta berlatih menganalisa situasi yang menekan seperti mendapat ajakan teman untuk melakukan sesuatu yang berisiko, menghadapi tekanan kelompok, menyampaikan ketidaksetujuan, maupun menetapkan batasan diri. Peserta ditekankan bahwa menolak tidak harus dengan marah atau berkonflik, namun bersikap tegas dan berani berkata tidak untuk ajakan negatif. Kemampuan mengatakan “tidak” dengan tegas dan tetap menghargai orang lain menjadi salah satu bekal penting untuk melindungi diri ketika kembali ke masyarakat.

Setiap Pilihan Ada Konsekuensinya

Bagian penting lainnya adalah memahami konsekuensi hukum dari tindakan negatif yang dilakukan kembali setelah anak keluar dari LPKA. Peserta diajak melihat bahwa kebebasan setelah menjalani masa pembinaan bukan berarti bebas melakukan apa saja. Kembali ke masyarakat juga berarti kembali menjalankan tanggung jawab sebagai bagian dari keluarga dan lingkungan sosial serta menaati aturan yang berlaku. “Kalau saya melakukan ini, apa yang mungkin terjadi?” pertanyaan sederhana tersebut diharapkan dapat menggugah pemikiran kritis peserta ketika dihadapkan pada situasi yang mengarah pada perilaku negatif. Pemahaman mengenai hukum diberikan sebagai bekal agar anak mampu memikirkan risiko, mempertimbangkan dampak, dan memilih tindakan yang lebih aman dan bertanggung jawab.

Dari Masa Lalu Menuju Masa Depan

Di akhir kegiatan, peserta diajak melakukan refleksi mengenai perubahan yang ingin dimulai. Bukan tentang menjadi sempurna , tetapi tentang berani mengambil satu keputusan yang lebih baik setiap hari. Mulai dari mengenali diri, mengendalikan emosi, mengelola stres, memilih lingkungan pertemanan yang sehat, berkomunikasi secara asertif, hingga menghindari perilaku yang dapat kembali berhadapan dengan masalah hukum. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa proses pembinaan bukan hanya tentang menjalani masa hukuman, tetapi juga tentang mempersiapkan diri untuk kembali menjalani kehidupan dengan lebih sehat, positif, dan bertanggung jawab.

Setiap anak memiliki cerita, memiliki kesempatan untuk belajar, serta memilih langkah berikutnya. Anak mungkin tidak dapat mengubah apa yang sudah terjadi, tetapi  masih memiliki kesempatan untuk menentukan apa yang akan akan dilakukan selanjutnya.