Plato Foundation

ToT HAT (Helping Adolescents Thrive) “Penguatan Pengasuhan Positif di Era Digital bagi Orang Tua dan Pendamping”

Facebook
WhatsApp
Twitter

PLATO dengan dukungan Pemerintah Kota Surabaya dan UNICEF menyelenggarakan kegiatan Training of Trainer HAT (Helping Adolescents Thrive) bagi komunitas orang tua pada 24 April 2025 di Graha Widya Bhakti STIESIA Surabaya. Kegiatan ini dihadiri 38 peserta (10 laki-laki dan 28 perempuan) dari perwakilan fasilitator masyarakat Internet Sehat dan Aman (Kelurahan Medokan Semampir, Kertajaya, Kebonsari, Pakal, Tanah Kali Kedinding) Koalisi Bersih Narkoba (Kelurahan Banyu Urip, Gayungan, Putat Jaya, Kebonsari), Pendamping UPTD PPA, Pendamping Shalter ABH DP3APPKB Surabaya, Pendamping Shelter Anak dan Perempuan DP3APPKAB Surabaya, Penyuluh Keluarga Berencana DP3APPKAB Surabaya, Puspaga Surabaya, Pendamping Kampung Anak Negeri Dinas Sosial Kota Surabaya, Pendamping Rumah Anak Prestasi Dinas Sosial Kota Surabaya (Dukuh Menanggal, Kedung Cowek, Nginden, Sonowijenan), Pendamping Komunitas Remaja Wahana Visi Indonesia, TP PKK Kota Surabaya, Penyuluh Keluarga Berencana BKKBN Jawa Timur, Pendamping UPT PRSMP Dinas Sosial Jawa Timur dan Pendamping UPTD PPA Jawa Timur. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas orang tua dalam mendukung kesehatan mental remaja melalui penerapan pengasuhan positif untuk mendampingi remaja di era digital.

Arini Fahma Master of Ceremony pelatihan ini membuka acara dan menyampaikan tujuan dari kegiatan ini, dilanjutkan menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang diikuti oleh semua undangan. Sambutan pertama disampaikan oleh Naning Pudji Julianingsih, Spesialis Perlindungan Anak Wilayah Jawa. Naning menyampaikan pentingnya peran orang tua dan pendamping dalam menjaga kesehatan mental remaja di era digital. “Rata-rata remaja Indonesia menghabiskan lebih dari enam jam per hari di internet, durasi ini jauh melampaui waktu yang mereka habiskan bersama orang tua. Saat relasi keluarga tertinggal oleh kecepatan dunia digital, banyak anak kehilangan makna ‘rumah’ sebagai tempat yang aman, nyaman dan menguatkan,” ujarnya.

Sambutan sekaligus pembuka disampaikan oleh Kepala Dinas DP3APPKB Kota Surabaya yang dalam kesempatan ini disampaikan oleh Santi Karlina, Ketua Tim Kerja Perlindungan Anak DP3APPKB Kota Surabaya. Beliau menyampaikan bahwa arus informasi dan teknologi digital yang begitu masif telah menggeser pola interaksi anak dan keluarga. “Orang tua masa kini memikul peran penting untuk tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga secara emosional dalam kehidupan anak di era digital” ungkapnya.

Pelatihan ini menyajikan tiga topik : Pertama “Menavigasi Pengasuhan di Masa Remaja”, yakni memahami karakteristik dan dinamika psikologis remaja, serta bagaimana orang tua bisa menjadi penuntun yang tegas sekaligus hangat. Kedua “Memelihara Hubungan dengan Anak Remaja”, membahas pentingnya kelekatan emosional dan komunikasi yang empatik agar remaja merasa dipahami dan diterima. Ketiga  “Mendukung Kesehatan Mental Remaja” yang berfokus pada memahami dan mendukung kesehatan mental remaja.

Menavigasi Pengasuhan di Masa Remaja

Serangkaian kegiatan ini dikemas dengan pendekatan Komunikasi Antar Pribadi (KAP). Setelah peserta melakukan pengisian pre-test, sesi pertama diawali dengan membangun keakraban antar peserta yang difasilitasi oleh Annisa Taqwa Zazi Muslim, Trainer Kesehatan Mental Remaja. Peserta saling mengenal dan berinteraksi melalui permainan dan gerak lagu, serta menuliskan harapan dan kekhawatiran selama mengikuti pelatihan. Pada sesi ini, fasiltator menyampaikan tujuan kegiatan dan membuat kesepakatan bersama agar pelatihan berjalan dengan baik. Sebagai langkah awal memahami masa remaja, peserta berpasangan dua orang dan saling berbagi cerita terkait hal yang paling disukai dan yang paling tidak disukai pada saat remaja. Aktivitas ini memunculkan beragam kisah menyenangkan dan tidak menyenangkan yang disampaikan secara antuasias oleh perwakilan peserta. Aktivitas ini menjadi refleksi bersama bahwa orang tua saat ini pernah mengalami masa remaja dengan berbagai dinamika dan pengalaman yang ada. Selama sesi berlangsung hingga akhir, terdapat pembagian doorprize bagi peserta yang berani berbagi dan menjawab pertanyaan dengan tepat. Sebelum masuk pada sesi inti, peserta diajak untuk “pause” sejenak dengan fokus pada aliran nafas dengan diiringi lantunan musik instrumental.

Kegiatan selanjutnya difasilitasi oleh Dita Amalia yang mengantarkan peserta untuk mulai memahami perkembangan remaja, mengulik OCSEA (Online Child Sexual Exploitation and Abuse) sebagai tantangan remaja di era digital serta korelasinya dengan kesehatan mental remaja. Sesi dikemas dengan interaktif, fasilitator meluncurkan pertanyaan-pertanyaan yang langsung dijawab oleh peserta, serta membuka ruang untuk berbagi terkait kasus OCSEA dan dampaknya terhadap kesehatan mental. Mengawali sesi, peserta disajikan gambar benih yang bertumbuh menjadi tunas hingga pohon dewasa dengan daun dan buah yang lebat. Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong pengasuh merenungkan masa remaja dan faktor-faktor yang membantu remaja untuk tumbuh dan berkembang. Perubahan ini yang dulu juga pernah dialami dan dilewati oleh orangtua atau pengasuh. Melalui gambar ini orangtua dan pendamping memahami bahwa merawat anak seperti menaman benih baru dan membantunya untuk bertumbuh. Orang tua memiliki peran besar untuk memberikan dukungan dan merawat dengan penuh kasih sayang. Maka identifikasi faktor yang dapat mendukung remaja menjadi bagian penting yang perlu dipahami oleh peserta. 

Aktivitas membuat “pohon saya” membantu peserta memikirkan tentang hal-hal yang membantu untuk tumbuh menjadi dewasa seperti saat ini. Pada gambar “pohon saya” peserta menuliskan tiga hal yakni pada bagian akar menuliskan dimana tinggal dan tumbuh besar saat remaja, pada bagian dahan menuliskan hal positif apa yang membentuk selama masa remaja dan pada bagian daun menuliskan bagaimana bisa berkembang dengan menuliskan kata positif yang menggambarkan diri peserta. Peserta kemudian saling berbagi dengan melakukan refleksi tentang hal positif apa yang membantu membentuk anak remaja selama masa remaja mereka dan peran orang tua dalam membantu mereka tumbuh dan berkembang. Melalui aktivitas ini, peserta diajak untuk memikirkan tentang remaja mereka ketika mendapatkan pertanyaan yang sama. Mereka diminta untuk berbagi dengan peserta lainnya mengenai hal-hal yang membentuk dan membantu remaja mereka tumbuh.


Mengenal dan memahami perubahan remaja menjadi aktivitas selanjutnya. Peserta terbagi menjadi 4 (empat) kelompok yang mereka beri nama kelompok Sehat, Semangat, Optimis dan Bahagia. Setiap kelompok berdiskusi bersama dan mempresentasikan hasil diskusi dan kelompok lain memberikan tanggapan dan masukan. Melalui aktivitas ini peserta dapat menyadari akan perubahan yang dialami remaja, meningkatkan kesadaran akan risiko dan faktor pelindung yang mempengaruhi kesehatan mental remaja saat tumbuh dewasa serta kebutuhan pengasuh untuk menyesuaikan cara mereka menjadi orangtua selama remaja. Fasilitator menekankam bahwa jika kita memahami apa yang terjadi pada remaja, kita akan memiliki ekspektasi yang lebih realistis tentang apa yang dapat dilakukan remaja, bagaimana mereka berperilaku dan apa yang dapat mereka capai. 

Peserta dalam kelompok kelompok selanjutnya melakukan aktivitas untuk identifikasi sumber stres yakni dari anak, keluarga, masyarakat dan pekerjaan. Dikemas melalui permainan, kegiatan ini berjalan dengan menyenangkan. Peserta didorong untuk memahami stres dan sumbernya. Melalui aktivitas ini, peserta dapat belajar bahwa setiap orang memiliki sumber dan tingkat stres yang berbeda yang dipengaruhi oleh beragam faktor. Pada aktivitas ini peserta saling berbagi terkait berbagai strategi yang mereka gunakan dalam mengelola stres. Fasilitator menekankan bahwa sebagai pengasuh, banyak momen tekanan yang memicu stres, maka perlu meluangkan waktu untuk membantu tetap tenang, bagi diri sendiri serta menemukan coping stres yang positif.

Setelah memahami stres dan sumbernya, aktivitas yang berfokus pada kesejahteraan diri dimulai. Kegiatan ini memperkenalkan konsep kesehatan mental pengasuh dan mendukung pengasuh dalam memilih strategi yang tepat. Perawatan diri mengacu pada strategi yang dapat digunakan oleh orang tua dan pengasuh untuk menjaga diri sendiri. Berbagai hal dapat dilakukan seperti latihan pernapasan untuk mengurangi respons emosional terhadap kejadian yang membuat stres. Peserta kemudian melakukan praktik pernafasan bersama. Selain itu peserta juga melakukan butterfly hug bersama sembari memberikan afirmasi positif dan apresiasi terhadap diri sendiri yang sudah berjuang melalui banyak hal dalam hidup. Sebagai bentuk perawatan diri, peserta juga diberikan penguatan untuk dapat menghargai, mencintai dan memaafkan diri sendiri. Kegiatan ini menjadi aktivitas penting bagi orang tua dan pendamping agar mampu melakukan perawatan diri sebelum mendampingi remaja untuk tumbuh dan berkembang.

Memelihara Hubungan dengan Remaja

Pada topik yang kedua ini, fokus membahas terkait konflik yang terjadi pada remaja dan orang tua atau pengasuh, bagaimana mengkomunikasikannya untuk dapat memelihara hubungan yang baik dengan remaja. Berkomunikasi dengan hormat dengan tujuan meningkatkan kesadaran akan pentingnya komunikasi yang saling menghargai sebagai salah satu cara mempererat hubungan dengan remaja. Selain itu perlunya meningkatkan keterampilan mendengarkan serta kemampuan pengasuh menggunakan cara yang tenang dan konstruktif untuk mengungkapkan perasaan mereka sendiri. Untuk memahami terkait komunikasi antara orang tua dan anak, dilakukan role play. Fasilitator Orangtua program HAT, Ninik Purjiwahyuni berperan sebagai anak sebagai korban OCSEA dan Susi Apriyani sebagai orangtua.

Seluruh peserta bersama-sama melakukan identifikasi terhadap komunikasi yang dilakukan oleh orang tua. Fasilitator menekankan bahwa konflik adalah bagian yang normal dari hubungan, tetapi cara orangtua melakukan pendekatan pada remaja memberikan dampak yang penting. Mempersiapkan diri, menggunakan bahasa yang tepat dan menenangkan, mendengarkan dan memvalidasi emosi, menghindari menuduh dan menyerang merupakan tips dalam melakukan komunikasi dengan remaja termasuk membicarakan topik yang dianggap sulit (narkoba, seks bebas dan lain sebagainya). Fasiltator menekankan bahwa mungkin akan terasa canggung melakukan pembicaraan dengan topik yang dianggap sulit, namun ini adalah bagian dari peran sebagai pengasuh yang perlu dilatih dan diterapkan. Pembicaraan ini dapat membimbing remaja membuat keputusan yang baik dan bertindak secara bertanggungjawab. Hal ini juga dapat membantu hubungan pengasuh dengan remaja menjadi lebih dekat.

Mendukung Kesehatan Mental Remaja

Pada sesi ini Asteria Ratnawati yang berprofesi sebagai psikolog menyampaikan materi terkait Deteksi Dini dan Pendampingan Anak dengan Masalah Kesehatan Mental. Fasilitator menjelaskan terkait faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan mental remaja serta tanda-tanda adanya gangguan kesehatan mental pada remaja. Dilanjutkan dengan diskusi mengenai masalah perkembangan pada anak remaja, risk factor dan protective factor, pendampingan psikologis, konseling individual, serta pendampingan keluarga di rumah dan di lingkungan masyarakat yang dibutuhkan oleh remaja yang telah mengakses intervensi pemulihan dari psikolog dan atau psikiater.

Kegiatan ToT HAT ini bukan hanya ruang pembelajaran, tetapi juga ruang perjumpaan antara harapan dan tantangan, antara ilmu dan praktik, serta antara individu-individu yang memiliki kepedulian yang sama dalam mendukung kesehatan mental remaja. Meningkatkan pemahaman peserta tentang tantangan remaja di era digital dan pengaruhnya terhadap kesehatan mental remaja, keterampilan peserta dalam menerapkan prinsip-prinsip pengasuhan positif di era digital, semangat peserta dengan berbagai aksi untuk mendukung kesehatan mental remaja dan pencegahan OCSEA melalui kampanye baik di media sosial maupun di lingkungan masyarakat menjadi harapan dari terlaksananya kegiatan ini. Melalui kegiatan ini, mari bersama-sama membangun kembali makna “rumah” bagi remaja—tempat di mana mereka merasa diterima, dipahami, dan tumbuh dalam kasih sayang yang nyata. Kegiatan diakhiri dengan pemberian apresiasi bagi seluruh kelompok yang telah berproses dalam kegiatan ToT ini sebagai Kelompok Teraktif, Kelompok Terheboh, Kelompok Terkreatif, dan Kelompok Terkompak.