Plato Foundation

PLATO PERKUAT KAPASITAS FASILITATOR MASYARAKAT LEWAT GIAT POSITIVE PARENTING DAY RETREAT

Facebook
WhatsApp
Twitter

Hasil Survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan satu dari tiga (34,9%) remaja berusia 10-17 tahun memiliki masalah kesehatan mental (15,5 juta), satu dari 20 (5,5%) remaja mengalami gangguan jiwa (2,45 juta). Peran orangtua/ pengasuh/ pendamping menjadi penting agar remaja mampu bertumbuh dan berkembang dengan kesehatan mental yang terpelihara dengan baik. Dibalik itu, mengasuh dan membesarkan anak membutuhkan seni dan keterampilan yang mendukung. 

Orangtua/pengasuh juga tidak lepas dari berbagai situasi seperti konflik dengan pasangan, tuntutan pekerjaan, kesehatan yang terganggu dan tantangan lainnya yang berujung mengalami stres. Ketika stres pada orang tua/pengasuh tidak dikelola dengan baik, akan dapat memicu kesalahan orangtua/pengasuh, seperti menerapkan pengasuhan dengan kekerasan. Tak cukup pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni untuk menerapkan pengasuhan positif namun juga waktu, tenaga dan perhatian perlu bersinergi dengan baik. Kondisi ini tak jarang membuat orangtua mendahulukan kesejahteraan keluarga dibandingkan diri sendiri.

Melansir dari Center for Disease Control and Prevention (CDC) tahun 2022, orang tua mengalami masalah kesehatan mental akan berpengaruh juga terhadap kesehatan mental anak seperti masalah emosional atau perkembangan yang terhambat. Seperti efek domino yang dapat berdampak pada keharmonisan keluarga, mengalami perceraian dan trauma. Melihat pentingnya self care bagi orangtua/ pengasuh/ pendamping mendorong PLATO berkolaborasi dengan UNICEF menyelenggarakan kegiatan Positive Parenting Day Retreat yang mengusung tema ”Menepi Sejenak, Kembali Lebih Kuat” pada 13 Mei 2025 di Ekowisata Mangrove Wonorejo Surabaya. Kegiatan diikuti oleh 14 peserta yang diantaranya merupakan fasilitator masyarakat Internet Aman dan Sehat (INSAN) dari kelurahan Kertajaya, Medokan Semampir, Pakal, Tanah Kali Kedinding dan Kebonsari. Tidak hanya sekedar refreshing, serangkaian kegiatan ini dikemas melalui S.H.A.R.E (Sharing, Healing, Awareness, Reflection and Education) dengan topik “Membangun Pengasuhan Positif Lewat Kehadiran Orang Tua yang Bermakna”.

Jelajah alam dengan perahu, mengawali perjalanan kegiatan ini. Sejenak menjauh dari hiruk pikuk kota dan beragam rutinitas yang ada, menikmati pemandangan tanaman mangrove di sepanjang sungai disertai sepoi angin yang berhembus. Usai turun di dermaga, melalui jembatan kayu peserta melanjutkan perjalanan menuju pendopo di tepi laut. Sesampai di lokasi kegiatan, bina suasana dan membangun keakraban menjadi aktivitas pembuka yang menyenangkan. Melalui sesi mengenal diriku dan orang lain, setiap peserta diminta memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama dan satu kata positif yang mewakili dirinya ”Shely Optimis”, ”Choir Semangat”, ”Tutik Sabar” dan lain sebagainya. Tak lupa gerak dan lagu menambah semangat dan kebersamaan antar peserta.

Mindful Walk in Nature, sesi ini peserta diminta berjalan di sekitar tempat wisata dengan penuh kesadaran, mencari sebuah benda penuh makna yang mewakili diri, kemudian digambar dan dituliskan dalam rangkaian kata indah. Dita Amalia dari PLATO sebagai fasilitator dalam giat ini, meminta peserta secara bergantian berbagi tentang diri mereka. Sesi ini menjadi penuh makna, karena setiap kata yang disampaikan memunculkan kesadaran dan kekuatan dari diri mereka. Lewat sesi ini peserta menyadari betapa diri bermakna dengan berbagai kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki.

Sharing Feeling penting dalam memahami emosi dan meregulasinya. Fasilitator meminta memilih satu potret gambar yang mewakili emosi hari ini. Peserta saling berbagi terkait emosi dasar seperti marah, bahagia, sedih, takut,jijik dan terkejut. Sesi ini mengajarkan bahwa ragam emosi datang dan pergi, menerima dan mengelolanya menjadi bagian yang perlu diinternalisasi dalam diri khususnya sebagai orangtua. Begitupula anak remaja, setiap harinya akan diliputi oleh beragam emosi disisinya.

Sebelum beranjak pada sesi berikutnya, fasilitator meminta peserta untuk melakukan sesi PAUSE. Kegiatan ini merupakan salah satu strategi yang dapat digunakan oleh orangtua/pengasuh dalam melakukan perawatan diri untuk mengurangi respon emosional terhadap kejadian yang menimbulkan stres. Diam sejenak, mengelola nafas dan berfokus pada tubuh dan setiap aliran nafas yang berhembus. ”Terkadang kita lupa pada setiap udara yang keluar masuk dalam tubuh. Menyadari dan mengatur setiap tarikan dan hembusan dengan tenang akan membantu meregulasi emosi kita”, ujar Dita. Memahami dinamika emosinya menjadi peran penting dari setiap orang tua.

Mengenal dan memahami bahasa cinta/kasih sayang (word of affirmation/ kata pendukung, quality time/ waktu berkualitas, receiving gifts/menerima hadiah, acts of service/pelayanan, physical touch/ sentuhan fisik) juga disampaikan dalam giat ini. Peserta diajak untuk mengenal bahasa cinta diri dan orang sekitarnya, memahami bagaimana mengekspresikan- menerima cinta/kasih sayang serta sebagai strategi meningkatkan komunikasi pada anak remaja. Sejatinya ketika remaja mengetahui bahwa mereka dicintai oleh orangtua/pengasuh mereka dengan memenuhi bahasa cinta yang dibutuhkan oleh remaja, ini dapat membantu mereka lebih mencintai dan menerima diri mereka sendiri serta dapat mendukung kesehatan mental remaja. Menunjukkan kasih sayang secara konsisten akan memberikan kesempatan remaja untuk berkembang. Peserta kemudian diminta menuliskan kata pendukung sebagai apresiasi pada peserta lainnya melalui sebuah kertas, ”kamu hebat”, ”semangat!”, ”kamu bisa melewatinya” dan lain sebagainya.

Menginjak sesi akhir, games interaktif seputar kesehatan mental menambah antusias dan semangat peserta. Peserta juga diminta merefleksikan seluruh serangkaian kegiatan yang sudah di lakukan sepanjang hari. Butterfly hug dan afirmasi positif untuk diri sendiri yang telah berjuang melewati banyak hal sebagai orang tua, menjadi sesi akhir dalam rangkaian acara ini. Sebagai bentuk perawatan diri, peserta juga diberikan penguatan untuk dapat menghargai, mencintai dan memaafkan diri sendiri. Kegiatan ini menjadi aktivitas penting bagi orang tua dan pendamping agar mampu melakukan perawatan diri sebelum mendampingi remaja.

”Semoga kegiatan ini tidak berhenti disini, karena sebagai orang tua kita perlu menepi sejenak agar dapat kembali lebih kuat guna membantu dan mendukung kesehatan mental diri sendiri, anak remaja dan orang disekeliling kita!” harap salah satu peserta. Sebelum penutupan setiap peserta diminta untuk menyusun rencana aksi sebagai komitmen bersama serta menyampaikan pesan kunci pengasuhan positif melalui video.