Surabaya, 19 April 2025. Pelatihan Komunikasi Antar Pribadi (KAP) yang terselenggara di Gedung Graha Widya Bhakti STIESIA di Kota Surabaya ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas keterampilan KAP penggiat dan relawan anti narkoba di Surabaya dalam menyampaikan pesan pencegahan narkoba. Turut hadir Kepala BNN Kota Surabaya, Koalisi Bersih Narkoba (Banyu Urip, Dukuh Menanggal, Gayungan, Gunung Sari, Menanggal, Kebonsari, Pagesangan dan Putat Jaya), Kelurahan Bersih Narkoba (Balongsari, Ketintang, Sidotopo), Duta Perdamaian dan Pemersatu Bangsa, SMCC Unesa, Karang Taruna Surabaya dan Pejuang Pemulihan Rehabilitasi PLATO.
Master of Ceremony, Arini Fahma Qona’ati S.IK.,M.Kom membuka dan menyampaikan tujuan kegiatan, dilanjutkan menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang diikuti oleh semua undangan. Sambutan pertama disampaikan oleh Kepala BNNK Surabaya dilanjutkan arahan sekaligus membuka kegiatan oleh Dita Amalia, Direktur PLATO.
Serangkaian kegiatan ini dikemas dengan pendekatan Komunikasi Antar Pribadi (KAP). Sesi pertama diawali dengan membangun keakraban antar peserta. Fasilitator mengajak peserta untuk saling mengenal, berinteraksi sekaligus membentuk kelompok melalui permainan dan gerak lagu. Semua peserta berkumpul sesuai kelompok yang sudah terbentuk yakni kelompok Mantap, Sehat, Baik, Happy, Hebat dan Berani. Pada sesi ini peserta juga diminta untuk menuliskan harapan dan kekhawatiran selama mengikuti pelatihan yang ditulis pada sticky notes yang kemudian ditempel. Kegiatan dilanjutkan dengan penguatan materi buku saku pencegahan penyalahgunaan narkoba untuk orang tua dan remaja yang di fasilitasi oleh Anna Mahsusoh S.KM.,M.Kes. Melalui permainan mitos dan fakta, para peserta saling berdiskusi dan berbagi informasi seputar pengetahuan pencegahan narkoba.
Annisa Taqwa Zazi Muslim S.Psi.,M.Si selanjutnya memfasilitasi sesi tentang keterkaitan narkoba dan kesehatan mental. Sesi ini diawali dengan sharing session bersama salah satu pejuang pemulihan rehabilitasi PLATO yang berbagi pengalaman terutama tentang bagaimana pengaruh narkoba terhadap kesehatan mentalnya. Dilanjutkan dengan brainstorming terkait faktor penarik seseorang melakukan penyalahgunaan narkoba dan faktor pendorong seseorang tidak melakukan penyalahgunaan narkoba, yang dikemas melalui permainan. Pada sesi ini fasilitator juga menguatkan pesan tentang strategi SPACE (Safe Zone, Pull & Push, Alternative, Consequence, Exercising Caution) sebagai langkah mengelola keputusan dalam mencegah penyalahgunaan narkoba khususnya di kalangan remaja.
Menyampaikan pesan pencegahan penyalahgunaan narkoba melalui penedekatan KAP untuk orang tua dan remaja, difasilitasi oleh Dita Amalia S.Sos., M.Psi. Komunikasi Antar Pribadi merupakan pendekatan yang digunakan antara individu atau kelompok dalam masyarakat, dengan tujuan untuk mengubah perilaku atau meningkatkan pemahaman tentang isu-isu yang penting termasuk narkoba. Prinsip pertama yakni Bangun Keakraban menekankan pada pentingnya melakukan obrolan pembuka. Fasilitator menekankan bahwa pertemuan dengan sasaran edukasi harus menyenangkan dan menambah keakraban sehingga pesan yang akan disampaikan lebih mudah masuk. Prinsip ini dilakukan dengan melakukan beberapa hal yakni melakukan obrolan pembuka, menunjukkan non verbal yang nyaman, menggunakan nama, mencari simpul, memberikan pertolongan kecil cepat, mendengarkan serta membangun suasana melalui ragam ice breaking. Prinsip kedua yakni Saling Mendengar dan Berbicara. Fasilitator menekankan bahwa agar dapat memasukkan pesan kepada sasaran, maka perlu melakukan persiapan agar sasaran edukasi bersedia mendengar. Hal ini menjadi penting untuk dapat memahami apa yang dipikirkan dan dikhawatirkan oleh sasaran, sehingga pesan yang disampaikan juga sesuai dengan kebutuhan. Dengarkan, Apresiasi, Klarifikasi (DAK), pharaprasing, mirroring, dan kalibrasi menjadi salah satu hal yang dapat diterapkan dalam prinsip ini. Prinsip ketiga dari Komunikasi Antar Pribadi adalah Kunci Komitmen. Fasilitator menekankan bahwa setiap pertemuan perlu mengarah pada perubahan perilaku tertentu, maka perlu mengunci sikap positif dari sasaran yang telah mendapatkan edukasi. Melalui sesi ini fasilitator tidak hanya memaparkan materi, namun juga mengajak peserta untuk praktik secara langsung melalui role play, berbagai aktivitas permainan dan lain sebagainya. “Terkadang memang tidak mudah mengajak masyarakat untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat, perlu memiliki strategi yang tepat, dan dapat diterima masyarakat, salah satu pendekatan yang dapat dilakukan dengan menerapkan prinsip Komunikasi Antar Pribadi”, ujar Dita.
Penguatan materi prinsip Komunikasi Antar Pribadi dilanjutkan dengan sesi praktik oleh setiap kelompok. Praktik pelatihan ini dikemas dengan micro teaching dimana setiap kelompok mempraktikkan secara langsung edukasi pesan pencegahan penyalahgunaan narkoba dengan pendekatan KAP. Peserta pelatihan yang praktik berperan sebagai edukator, sedang yang tidak berperan menjadi masyarakat pada umumnya. Terdapat beberapa pesan yang perlu disampaiakn oleh setiap kelompok antar lain; Kelompok Hebat (Faktor yang Mempengaruhi Penyalahgunaan Narkoba); Kelompok Sehat (Dampak Penyalahgunaan Narkoba); Kelompok Baik (Tips Melindungi Anak dari Narkoba); Kelompok Happy (Memahami Tahapan Penggunaan Narkoba); Kelompok Hebat (Tips Menolak Narkoba); Kelompok Berani (Penyebab Remaja Melakukan Penyalahgunaan Narkoba). Praktik edukasi dilakukan dengan menerapkan prinsip Komunikasi Antar Pribadi (KAP) yang telah dikuatkan sebelumnya.

Seusai praktik, fasilitator mengajak seluruh peserta untuk melakukan feedback terkait praktik yang telah dilakukan. Tujuannya agar peserta dapat memperbaiki dan meningkatkan teknik penyampaian pesan pencegahan penyalahgunaan narkoba baik untuk sasaran orang tua maupun remaja. Selanjutnya, sebagai bagian dari komitmen, peserta pelatihan menyusun Rencana Tindak Lanjut sesuai organisasi dan wilayah masing-masing. Melalui rencana aksi ini, peserta dapat melakukan edukasi melalui media buku saku dengan sasaran orang tua dan remaja yang memuat pesan pencegahan penyalahgunaan narkoba yang telah disusun oleh PLATO bersama BNNK Surabaya, Bakesbangpol Kota Surabaya dan stakeholder terkait. Penyebaran pesan dapat dilakukan di media sosial maupun di lingkungan masyarakat. Kegiatan secara resmi ditutup oleh Direktur PLATO, “Semoga pelatihan ini dapat menjadi bekal bagi peserta pelatihan untuk menyampaikan pesan pencegahan penyalahgunaan narkoba, sebagai bagian dari ikhtiar dalam menyelamatkan generasi bangsa dan mewujudkan Surabaya Bersih Narkoba .” tutup Dita.